30.11.14

HIJRAH DAN KULTUS INDIVIDU

Oleh : Cak Nun

Tidak ada satu peristiwa apa pun dalam kehidupan yang dihuni oleh manusia ini yang tidak bersifat hijrah. Seandainya pun ada benda yang beku, diam dan seolah sunyi abadi: ia tetap berhijrah dari jengkal waktu ke jengkal waktu berikutnya.

Orang jualan bakso menghijrahkan bakso ke pembelinya, dan si pembeli menghijrahkan uang ke penjual bakso. Orang buang ingus, buang air besar, melakukan transaksi, banking, ekspor impor, suksesi politik, revolusi, apapun saja, adalah hijrah.

Inti ajaran Islam adalah hijrah. Icon Islam bukan Muhammad,melainkan hijrah. Muhammad hanya utusan, dan Allah dulu bisa memutuskan utusan itu Darsono atau Winnetou, tanpa ummat manusia men-demo Tuhan kenapa bukan Muhammad. Oleh karena itu hari lahirnya Muhammad saw. Tidak wajib diperingati. Juga tidak diletakkan sebagai peristiwa nilai Islam. Hari lahir Muhammad kita ingat dan selenggarakan peringatannya semata-mata sebagai peristiwa cinta dan ucapan terima kasih atas jasa-jasanya melaksanakan perintah Tuhan.

12 Rabiul Awal bukan hari besar Islam sebagaimana Natal bag ummat Kristiani. Sekali lagi, itu karena Islam sangat menghindarkan ummatnya dari kultus individu. Wajah Muhammad tak boleh digambar. Muhammad bukan founding father of islam. Muhammad bukan pencipta ajaran, melainkan pembawa titipan. Tahun Masehi berdasarkan kelahiran Yesus Kristus, sementara Tahun Hijriyah berdasarkan peristiwa hijrah Nabi, yang merupakan momentum terpenting dari peta perjuangan nilainya.

Kesadaran hijriyah menghindarkan ummat dari penyembahan individu, membawanya menyelam ke dalam substansi ajaran -- siapa pun dulu yang diutus oleh Tuhan untuk membawanya. Hijrah adalah pusat jaring nilai dan ilmu. Dari gerak dalam fisika dan kosmologi hingga perubahan dan transformasi dalam kehidupan sosial manusia. Manusia Muslim tinggal bersyukur bahwa wacana dasar hijrah sedemikian bersahaja, bisa langsung dipakai untuk mempermatang cara memasak makanan, cara menangani pendidikan anak-anak, cara mengurus organisasi dan negara.

Hijrah Muhammad saw. dan kaum Anshor ke Madinah, di samping merupakan pelajaran tentang pluralisme politik dan budaya, juga bermakna lebih esoterik dari itu.

Peristiwa Isra' Mi'raj misalnya, bisa dirumuskan sebagai peristiwa hijrah, perpindahan, atau lebih tepatnya transformasi, semacam proses perubahan atau 'penjelmaan' dari materi ke (menjadi) energi dan ke (menjadi) cahaya.
Sebenarnya sederhana saja. Kalau dalam ekonomi: uang itu materi, kalau diputar atau digerakkan atau 'dilemparkan' maka menjadi enerji. Itu kejadian isro' namanya. Tinggal kemudian enerji ekonomi itu akan digunakan (dimi'rajkan) untuk keputusan budaya apa. Kalau sudah didagangkan dan labanya untuk beli motor: motornya dipakai untuk membantu anak sekolah atau sesekali dipakai ke tempat pelacuran.

Di dalam teknologi, tanah itu materi. Ia bisa ditransformasikan menjadi genting atau batu-bata. Logam menjadi handphone, besi menjadi tiang listrik, atau apapun. 

Tinggal untuk apa atau ke mana mi'rajnya.
Peristiwa isro' bergaris horisontal. Negara-negara berteknologi tinggi adalah pelopor isro' dalam pengertian ini.

Pertanyaannya terletak pada garis vertikal tahap mi'raj sesudahnya. Kalau vertikal ke atas, berarti transform ke atau menjadi cahaya. Artinya produk-produk teknologi didayagunakan untuk budaya kehidupan manusia dan masyarakat yang menyehatkan jiwa raga mereka dunia akhirat. 
Kalau garis vertikalnya ke bawah, berati transform ke atau menjadi kegelapan. Mesiu Cina diimport ke Eropa menjadi peluru, meriam dan bom. Kita bisa dengan gampang menghitung beribu macam produk teknologi isro' pemusnah manusia, perusak mental dan moral masyarakat.

Dalam pengertian umum dan baku selama ini, Isra' Mi'raj selain merupakan peristiwa besar dalam sejarah, namun pada umumnya berhenti sebagai wacana dongeng, dan belum digali simbol-simbol berharganya atas idealitas etos tranformatif.

Dalam kehidupan sehari-hari, sesuai dengan rumus di atas, segala sesuatu yang menyangkut kehidupan manusia-baik di bidang ekonomi, politik, sosial budaya dan sebagainya-terjadi secara berputar membentuk bulatan. Yang sehari-hari sajapun: badan kita (materi), tentu, jika tidak diolah-ragakan (dienergikan), mengakibatkan tidak sehat. Tidak sehat adalah kegelapan.

Setelah badan kita sehat dan menyehatkan, lantas dipergunakan untuk kegiatan yang baik, yang memproduk cahaya bagi batin kehidupan kita, serta bermanfaat seoptimal mungkin bagi sesama manusia dan alam-lingkungan.

13.11.14

Captain Phillips, Adaptasi yang Sukses

Sinopsis Film Captain Phillips

Captain Phillips adalah cerita yang diambil dari pembajakan kapal AS Maersk Alabama oleh bajak laut Somalia pada 2009. Pada waktu itu hubungan antara Kapten kapal Alabama Richard Phillips (Tom Hanks) dengan rekan Somalia-nya, Muse (Barkhad Abdi) tumbuh secara intensif. Berlokasi di lepas pantai Somalia, dua orang ini menyaksikan orang yang dikorbankan untuk kepentingan ekonomi tanpa bisa berbuat apapun.

Pengalaman Kapten Phillips yang menakutkan karena kapalnya dibajak merupakan material yang sempurna untuk sebuah film menegangkan. Paul Greengrass beruntung mempunyai screenplay yang baik yang merupakan adapatasi dari buku yang ditulis sendiri oleh Kapten Phillips. Karakter ini dimainkan secara seimbang oleh Hanks, dia bisa menunjukkan keberanian tanpa harus menjadi terlalu heroik.

Rekontruksi pembajakan dikerjakan secara hati-hati dan sukses menjelaskan bagaimana sedikit orang dengan senjata sanggup membajak sebuah kapal yang amat besar. Tidaklah mudah memang, tapi kapal besar yang tidak memiliki sistem pertahanan memang merupakan target empuk di tengah lautan lepas. Para pembajak kemudian meminta tebusan dalam jumlah yang keterlaluan karena menganggap kapal-kapal Barat telah lama merampok kekayaan laut mereka. Sekilas aksi mereka bisa "dibenarkan" dalam konteks mencari keadilan tetapi Greengrass amat pintar. Dia tidak memberikan justifikasi moral pada pembajak Somalia dan mempertahankan Kapten Phillips sebagai the good guy.

Aktor-aktor Somalia bermain luar biasa dan kehadiran mereka merupakan kekuatan mendalam dalam film, yang dibangun dengan kronologi yang ketat. Lumayan layak tonton untuk mereka yang suka film menegangkan.
Sutradara: Paul Greengrass
Penulis: Billy Ray
Pemain: Tom Hanks, Barkhad Abdi, Barkhad Abdirahman

12.11.14

PEMBUNUH dan PENYEMBELIH

Seusai mengaji Al-Qur’an bersama, disebuah surau, terdengar suara Pak Guru berbicara tentang keburukan kepada murid-muridnya.

“Kenapa dalam kenduri tadi malam tak kita sebut Fulan membunuh ayam, melainkan Fulan menyembelih ayam? Kenapa Fulan tidak disebut pembunuh, melainkan penyembelih?”

“Karena kebaikan dan keburukan itu bentuk pekerjaanya bisa sama, tetapi berbeda perhubungan nilai dan haknya. Kalian menggenggam sebilah pedang, kemarin kalian menebaskannya ke dahan pohon, hari ini ke leher seseorang. Yang kalian lakukan semata mata menebaskan pedang, tetapi pada tebasan yang kedua, kalian menghadirkan sesuatu tidak pada tempatnya dan tidak pada haknya.”

“Selembar kertas yang bersih kalian hamparkan di atas lantai rumah yang bersih: kertas itu menjadi kotoran pada lantai. Demikian pula jika kalian tidur di tengah jalan raya, sembahyang subuh di siang bolong, atau menyanyikan lagu keras-keras di rumah sakit. Keburukan adalah kebaikan yang tidak diletakkan pada ruang dan waktunya yang tepat.”

“Makan gulai itu baik dan bergizi, tapi ia menjadi kejahatan jika kalian lakukan tanpa berbagi dengan seseorang yang kelaparan yang pada saat itu berada dalam jangkauanmu.”

“Mengucapkan kata-kata, mengungkapkan pengetahuan atau menuturkan ilmu; betapa mulia. Tetapi pada keadaan tertentu yang kalian ucapkan adalah dusta. Jadi mengucapkan (pada menuturkan ilmu) dan mengucapkan (pada berkata dusta) itu berbeda (walaupun sama-sama berkata-kata/mengucapkan sesuatu) seperti perbedaan antara surga dan neraka.”

“Mengambil air di sumur, mengambil bebuahan di ladang atau mengambil uang disaku; baik itu adanya. Tetapi sumur siapa, ladang siapa dan saku siapa: itulah yang menentukan apakah kalian mengambil ataukah mencuri.”


11.11.14

Konsep Teologi Sepeda Hilang

Pada suatu pagi, sekitar 15 tahun yang lalu, sepeda pancal alias sepeda onthel saya hilang dari rumah kontrakan saya. Tentu diambil oleh salah seorang dari anak-anak muda sekitar sini. Banyak dari mereka pengangguran, dan lagi rumah ini memang dekat dengan pasar.
Sebagai manusia normal, saya marah. Tapi terus terang ini tidak konsisten dan tidak rasional. Rumah ini memang tak pernah dikunci. Setiap orang gampang sekali membuka pintu yang sebelah manapun dan mengambil apapun. Jadi, kalau sepeda hilang, itu logis dan realistis.
Tapi saya tak peduli. Saya ke depan rumah, berdiri bertolak pinggang menghadap ke arah pasar, dan berteriak: “Kalau sepeda saya tidak kembali sampai nanti sore, saya tidak bertanggung jawab kalau ada orang pengkor satu kakinya, cekot sebelah tangannya, atau pethot mulutnya”.
Orang-orang di sekitar kaget dan terkesiap sejenak. Tapi saya segera masuk rumah dan tidur lagi.
Tak disangka tak dinyana, ketika siang belum sempurna, pintu depan diketuk berulangkali. Saya nongol, seorang anak muda berpakaian butut berdiri dengan wajah ketakutan dengan sepeda berdiri terjagang di sebelahnya.
Ketika saya menatapnya, ia menunduk. “Kenapa kamu?” Saya bertanya.
“Maaf, Cak…” ia menjawab tersendat, “saya yang mencuri sepeda Sampeyan. Saya minta maaf. Sekarang saya kembalikan….”
“Lho, kenapa kamu kembalikan?” Saya bertanya lagi.
“Saya dengar dari orang-orang bahwa Sampeyan marah….”.
“Tapi kan kamu butuh sepeda?” Saya kejar terus.
“Iya, siih….”
“Untuk apa sepeda?”
“Tempat kerja saya jauh sekali. Kalau saya jalan kaki, kejauhan. Kalau saya pakai angkutan, gaji saya jadi terlalu sedikit….”
“Jadi kamu butuh sepeda?”
“Ya, Cak”
“Ya sudah, kamu bawa saja sepeda ini,” kata saya, “sekarang sepeda ini sudah halal kalau kamu bawa. Saya sudah ikhlas, kamu sudah tidak berdosa. Dan, Insya Allah, kalau yang kamu pakai adalah barang halal, rejekimu akan berkah. Kalau tadi, karena kamu mencuri, maka kamu berdosa, dan saya kamu tindas. Kamu dikutuk Tuhan, saya tidak mendapat apa-apa kecuali kemarahan. Sekarang semua sudah halal dan baik. Silakan pakai, semoga Allah menambah rezekimu dan meringankan hidupmu.”
Dia bengong. Saya masuk rumah dan kembali tidur.
Dengan dua macam lalu-lintas pindahnya suatu barang dari dan ke subyek yang sama, nilainya menjadi berbeda. Kalau saya memakai kalkulasi ekonomi dunia, maka saya rugi kehilangan sepeda. Maka saya pakai teologi manajemen dunia akhirat, sehingga beralihnya sepeda saya ke tangan anak itu tidak membuat saya kehilangan. Malah saya laba banyak, bukan hanya pahala di akhirat, tapi Allah juga menjanjikan rezeki berlipat ganda, entah berupa apapun, terserah Dia saja. pokoknya la in syakartum la ‘azidannakum.
Saya ini hampir selalu dikeluarkan dari setiap sekolah yang pernah saya masuki. Jadi saya ini bukan kaum terpelajar, baik di sektor Salafiyah dan Kitab Kuning, maupun di sektor persekolahan modern. Jadi saya tidak tahu banyak mengenai banyak hal. Tetapi dengan segala keawaman itu saya haqqul yaqin dan ‘ainul yaqin bahwa apa yang saya pahami, sikapi, dan lakukan dalam hal sepeda itu adalah konsep teologi Islam.
Apapun saja yang saya lakukan di muka bumi ini, sejak pagi hingga pagi berikutnya, ketika berada di timur atau barat, tatkala berjaga, atau mengantuk, sebisa-bisa saya tumbuhkan di atas kesadaran dan konsep teologi yang segamblang-gamblangnya.
Kalau saya menjumpai sebatang kayu melintang, saya sisihkan ke pinggir supaya tidak menyandungi orang lewat. Kalau mungkin, saya akan pakai ia untuk menyangga sesuatu atau untuk apapun yang bermanfaat. Konsep teologi saya ada lah bahwa segala yang di depan saya itu merupakan amanat Allah untuk saya Islamkan. Di-Islamkan artinya diubah dari kemubaziran atau kemudharatan menjadi kegunaan dan kemashlahatan.
Ingatan, kesadaran, dan formula konsep teologi itu harus terus-menerus saya cari, saya pahami, dan saya terapkan. Dan itu berlaku untuk pekerjaan yang kecil maupun yang besar. Untuk soal rumput di halaman rumah sampai soal pekerjaan sejarah besar yang menyangkut kebudayaan masyarakat.
Saya menyuapi mulut saya dengan nasi tidak karena saya ingin makan, melainkan karena saya wajib memelihara kesehatan badan yang dimandatkan oleh Pencipta saya. Saya mencangkuli tanah dan menanam sesuatu bukan sekadar karena saya menyukai keindahan, melainkan juga karena saya bersyukur dan takjub: kok ya ada di dalam hidup ini yang namanya tanah, kesuburan, serta biji yang kalau ditaruh di situ lantas tumbuh dengan penuh keajaiban.
Saya berangkat tidur pada jam tertentu bukan karena saya ingin menikmatinya, tapi karena saya wajib bergabung ke dalam irama sunnatullah yang menyangkut badan dan jiwa saya. Saya bersedia pulang ke rumah hanya beberapa hari dalam sebulan dan selebihnya diatur orang banyak untuk berada di berbagai tempat dan melaksanakan kemauan mereka, bukan karena itu karir saya atau profesi saya, karena saya tidak punya karir dan tidak peduli profesi.
Saya lakukan itu semua karena, pertama, saya ini aslinya tidak ada, kemudian Allah mengadakan saya, ia satu-satunya yang berhak atas saya, dan karena itu segala yang saya lakukan bergantung pada kemauan-Nya. Saya diberi wewenang oleh-Nya untuk berkemauan, tapi saya tidak pernah percaya bahwa kemauan saya atas diri saya dan dunia ini akan pernah lebih baik dibanding kemauan Tuhan atas diri saya dan dunia ini. Oleh karena itu saya tidak berani melepaskan apapun sampai yang sekecil-kecilnya dan seremeh-remehnya, dari pencarian pengetahuan tentang apa yang kira-kira dimaui oleh Sang Konsultan Agung Allah SWT itu.
Kalau saya punya iradah, harus saya sesuaikan dengan amr-Nya. Terkadang cocok, terkadang tidak. Terkadang benar, terkadang salah. Tapi, apapun yang terjadi, iradah itu harus saya lakukan dengan menggunakan qoul-Nya supaya produknya adalah kun fayakun. Saya tidak banyak mengerti ilmu di alam semesta ini. Jadi hanya itulah yang saya pahami sebagai konsep teologi.
Maka, sebab kedua, orang-orang yang memintaku untuk melakukan segala macam pekerjaan itu — ya kesenian, ya keagamaan, ya politik, ya ekonomi, ya pengobatan, ya konsultasi kejiwaan,ya segala macam jenis partisipasi dan sumbangan sosial — tidak bisa saya yakini bahwa kemauan mereka itu benar-benar terlepas dari kemauan Tuhan. Saya harus berspekulasi dan bersangka baik bahwa mereka adalah penyalur amanat Tuhan kepada saya.
Jadi, apa saja, dari makan rujak sampai bikin ABRI, tidak berhak dilakukan oleh manusia yang memiliki hubungan vertikal total dengan Allah — tanpa memberangkatkannya dari ingatan, kesadaran, dan konsep teologi yang jelas.
Dengan kata lain, tak perlu menunggu mau bikin partai Islam dulu baru berpikir tentang konsep teologi. Bikin mesjid, bikin perusahaan, bikin Golkar, bikin negara, bagi orang yang ber-Tuhan, ada keberangkatan dan titik tuju teologisnya.
Ketika berpakaian sekular, ketika berbusana Muslim, ketika berformalisme Islam, ketika berkultur-kultur Islam, ketika Islam formal dipakai atau disembunyikan, ketika Islam diletakkan di kultur thok, atau juga di politik resmi, semua terikat pada penyikapan teologis. Apalagi yang namanya Partai Islam, harus terutama dilihat secara substansial: bisa saja namanya Partai Daun atau Partai Kambing, tapi yang kita lihat adalah apakah substansi kerjanya Islam atau tidak. Hanya orang-orang yang tradisinya berpikir simbolik yang menyangka bahwa partai Islam hanyalah partai yang memakai nama dan kata Islam.
Kalau ada parpol yang pilar perjuangannya adalah amar makruf nahi munkar dan akhlaqul karimah, maka secara substansial ia telah bersyahadat Islam. Bahkan kalau ada parpol lain yang memperjuangkan demokrasi, kemerataan kesejahteraan, keadilan sosial, dan penghormatan atas haq asasi manusia, secara substansial ia bisa kita sebut partai Islam. Masalahnya, tinggal ditunggu proses aktualisasinya saja: konsisten atau tidak, istiqamah atau tidak.
Kalau misalnya saya sibuk dan mencemaskan berdirinya partai Islam, karena toh substansi partai-partai yang ada juga relatif sudah substantially Islam, maka berarti saya berpikir simbolik. Juga berarti saya tidak paham bahwa kalau ada anjuran tentang partai Islam formal, itu sekadar upaya pembebasan dari tradisi simbolisme: agar tidak resmi Islam ya boleh, resmi Islam ya boleh. Yang penting, substansinya Islam atau tidak.


Tidak hanya ketika saya pakai peci saya maka saya terikat oleh teologi Islam. Tatkala saya pakai kaos oblong dan menjadi gelandangan di tepi jalan pun saya terikat oleh Allah.

WhatsApp MEMICU PERSELINGKUHAN???

"Awalnya lewat pesan pendek (SMS), kemudian Facebook dan kini WhatsApp."

Kemajuan teknologi tentu saja memudahkan setiap orang untuk melakukan kegiatan sehari-hari. 

Termasuk aplikasi pesan pendek berbasis internet, yang membuat kita mudah berhubungan satu sama lain.

Tapi di sisi lain, kehadiran aplikasi pesan pendek berbasis internet seperti WhatsApp rupanya memiliki dampak negatif. 
Seperti fenomena yang tengah marak di Italia.

Menurut catatan Asosiasi Pengacara Perceraian Italia, 40 persen kasus perceraian yang terjadi di negeri Pizza menggunakan percapakan via WhatsApp sebagai barang bukti.
"Sosial media mendorong pengkhianatan di Italia. Membuat perselingkuhan lebih mudah. Awalnya lewat pesan pendek (SMS), kemudian Facebook dan kini WhatsApp," kata Gian Ettore Gassani, Presiden asosiasi itu kepada Times.

Dengan aplikasi WhatsApp, mereka yang berselingkuh dapat sering berkomunikasi dengan mudah. Menjalin lebih dari satu hubungan di waktu yang sama, bahkan bisa saling bertukaran foto.
Meski begitu, Gassani memberikan peringatan untuk mereka yang doyan berselingkuh via WhatsApp. Sebab, cara seperti itu juga lebih mudah terbongkar.

"Pasangan Anda akan lebih sering curiga saat mendengar suara tanda ada pesan masuk," kata Gassani.
Di Italia, 81 persen pengguna iPhone memasang WhatsApp di ponsel pintar mereka.
WhatsApp diketahui punya lebih dari 600 juta pengguna dan aplikasi lintas platform itu sudah dibeli Facebook pada Februari lalu.
(Ism, Sumber: Mashable)

9.11.14

SEDERHANA SELALU MENGINDAHKAN

Hidup sederhana berarti membebaskan segala ikatan yang tidak di perlukan. Berbeda dengan kemiskinan, kesederhanaan merupakan suatu pilahan, keputusan untuk menjalani hidup yang berfokus pada apa yang benar-benar berarti (Al-Muhasibi, 2006). Memahami pengertian hidup sederhana tidak bisa di maknai secara sederhana, artinya hidup sederhana ini memiliki pengertian yang luas. Jika seseorang memaknai pengertian hidup sederhana secara simple maka terkesan bahwa hidup sederhana itu hidup yang apa adanya. Padahal maksud dari hidup sederhana bukan semacam itu.

Ciri-ciri hidup sederhana
Hidup sederhana bukan berarti hidup miskin atau kikir. Namun hidup sederhana adalah hidup yang di sesuaikan dengan kebutuhan dan tidak berlebihan dalam menggunakan harta yang ada. Sederhana lebih menekankan pada aspek gaya hidup bukan pada usaha yang di lakukan seseorang. Artinya usaha untuk mencapai kesuksesan tidak bolah sederhaha, tapi harus semaksimal mungkin di lakukan. Hal ini mengisyaratkan bahwa hidup sederhana adalah menggunakan hasil yang sudah di upayakan secara maksimal dengan sederhanasesai dengan kebuthan yang ada.
Berikut adalah ciri-ciri hidup sederhana
  • Hidup yang wajar, hidup sederhana adalah hidup yang tidak berlebihan dalam menggunakan harta yang di miliki. Wajar di sini juga mempunyai arti mampu menggunakan harta sesuai kebutuhan yang ada, tidak menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting.
  • Cerdas. Mampu menggunakan harta dengan pertimbangan yang matang, tidak hanya berorientasi pada masa sekarang, tapi juga punya orientasi pada masa yang akan datang. Selain itu juga mampu mempertimbangkan manfaat atas barang yang di beli dan semua perilaku yang di lakukan
  • Tidak menjadikan keinginan menjadi kebutuhan. Setiap orang pasti tidak akan pernah lepas dari keinginan-keinginan, dalam hidu sederhana seseorang harus mampu mengelola keinginan secara baik, jangan sampai setiap keinginan di jadikan kebutuhan yang harus di penuhi.
Cara Berpeliku Hidup Sederhana
Di awal tadi saya sudah sedikit menjelaskan bahwa sederhan itu terkait dengan gaya hidup bukan pada usaha yang di lakukan. Untuk itu cara berperilaku hidup sederhana adalah bagaimana  seseorang menggunakan harta yang di miliki untuk mencukupi segala kebutuhan yangada secara cerdas. Berikut adalah cara hidup sederhana
  • Punya skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan
Usakan kita memiliki skala prioritas dalam memenuhi kebutuhan. Pahamai benar apa yang menjadi kebutuhan pokok. Inilah skala prioritas utama kita, kebutuhan pokok ini meliputi, sandang, pangan , papan, pendidikan dan pengembangan diri.
  • Tetap bekerja keras dan berusaha
Di awal tadi di jelaskana hiduo sederhana bukanlah hidup miskin, artinya kita tataap harus melakukan usaha secara sungguh-sungguh untuk memperbaiki kulaitas hidup menjadi ebih baik dan sejahtera. Baru jika kita mendapatkan hasil dari apa yang sudah kita usahakan kita mampu menggunakan hasil itu secara sederhana, tidak bermewah-mewahan atau membelanjakan uang secara berlebihan.
Demikianlah beberapa hal yang harus kita pahami tentang hidup sederhana. Tetap semangat, tetap berusaha semaksimal mungkin, serta menggunakan hasil tersebut secara baik sesuai dengan kebutuhan yang ada itulah makna sederhana.

KETIKA MANTAN PREMAN MULAI BERIMAN

Mengawali pagi dengan bersyukur,.. Karena kebersihan adalah sebagian dari iman....